====================
05 - Insiden di Gerbang Sekolah
Musim semi, musim di mana bunga-bunga mulai bermekaran.
Sudah dua bulan sejak ayah menyarankanku untuk mengambil ujian masuk sekolah.
Sekarang Aku berada di ibukota kerajaan, 《Mizgard》.
Kota terbesar di negara ini, yang letaknya bersebelahan dengan Kota Gelap.
Aku berangkat dari rumah sewaan tempat biasa ku tinggal—yang letaknya di daerah kumuh—dan berjalan menuju pinggiran kota Mizgard, ibukota kerajaan.
"Oh... Jadi ini yang namanya Akademi Sihir Kerajaan." [Ars]
Dinding sekolah yang dihiasi dengan pahatan naga lebih terlihat seperti karya seni ketimbang sebuah bagian bangunan.
Ada dua alasan mengapa Aku memutuskan 'tuk masuk ke Akademi Sihir Kerajaan, walau ada banyak pilihan lainnya.
Pertama, biayanya yang murah.
Entah mengapa, biaya sekolah ini hanya sepersepuluh dari biaya sekolah lainnya.
Ironis. Sekolah yang diperuntukkan untuk mereka yang kaya malah dibiayai fasilitasnya lewat pajak.
Dan alasan kedua, karena lokasi sekolah yang bagus.
Lokasi sekolah ini dapat ditempuh dengan berjalan dari pusat ibu kota, dan juga tidak jauh dari tempat tinggalku—yang letaknya di daerah kumuh.
Tentunya, dengan semua kebaikan tersebut, sekolah ini menjadi favorit dan populer bagi para siswa.
"Wow, Aku gugup banget!"
"Tak apa! Kalau kugunakan keahlianku, Aku pasti lulus!"
Yaah, sudah kuduga bakal begini.
Jalan menuju sekolah sudah dipenuhi oleh anak-anak seusiaku.
"Hey, lihat deh. Bukankah dia Louis, anak dari keluarga Buster?"
"Eh beneran!? Memang ya akademi ini memang luar biasa...! Sepertinya semua bintang masyarakat kelas atas berkumpul di sekolah ini."
Kecuali Aku, para siswa yang lain sepertinya anak dari keluarga bangsawan.
Yaah, rakyat jelata yang bisa menggunakan sihir sepertiku langka, jadi tidak aneh kalo begini jadinya.
Ngomong-ngomong, mudah caranya membedakan antara bangsawan dengan rakyat jelata.
Orang yang memiliki medal di kerahnya merupakan seorang bangsawan.
Yang tidak memiliki medal dianggap sebagai rakyat jelata.
Ada juga orang yang memilih untuk menyembunyikan medal mereka dan berbaur dengan rakyat jeata, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang yang hidup di dunia bayangan sepertiku.
"Kau bercanda!? Bangsawan bintang 1 sepertimu berani melawan balik padaku?" [Noble A]
Hmmm...? Sepertinya ada kerumunan di depan gerbang sekolah.
Kelihatannya ada masalah di sana... sebaiknya Aku tidak ikut campur.
"Kita berada di tanah suci Akademi Sihir Kerajaan! Bukan tempat untuk sekolah bagi sampah sepertimu!" [Noble A]
"Apa-apaan kamu!? Aku tak pernah dengar kalau bangsawan bintang 1 tidak boleh mengikuti ujian! Tidak pernah ada aturan seperti itu saat Aku mendaftar!" [Noble B]
Tampaknya kedua bangsawan tersebut sedang berdebat.
Di depan gerbang sekolah, seorang lelaki berambut pirang dan perempuan berambut merah sedang berdebat satu sama lain.
"Aturannya memang tidak ada, tapi lihatlah sekitarmu! Mereka semua bangsawan bintang 2 atau 3! Aturan memang penting, tapi lebih penting lagi kalau kau mengerti kewajiban seorang bangsawan!" [Noble A]
Posisi seorang bangsawan bisa dilihat dari jumlah bintang yang ada di medal mereka.
1 bintang, bangsawan dengan posisi terlemah yang tidak memiliki wilayah kekuasaan.
2 bintang, bangsawan dari kalangan menengah keatas atau lebih yang memiliki wilayah kekuasaan.
3 bintang, bangsawan yang memiliki wilayah kekuasaan yang luas dan juga bisnis yang besar.
"Benar! Beraninya kau bintang 1 melawan Deluc-sama!"
"Lebih baik kau enyah dan keluar dari ujian ini!"
Orang-orang disekeliling si pirang (yang bernama Deluc) mencerca si wanita berambut merah.
"Kau, dengar Aku baik-baik. Bagi bangsawan jumlah bintang adalah segalanya! Mereka yang punya bintang yang rendah harus menurut pada bangsawan yang berbintang lebih tinggi. Apa kau benar-benar seorang bangsawan, kalau hal sesederhana itu saja tidak tahu?" [Noble A / Deluc]
"~~~!"
Hmm.
Perempuan berambut merah yang telah diteror oleh Deluc dan kawanannya terlihat tak berdaya sekarang.
"Hei, ada ribut apa disana?" [Ars]
Aku menghampiri perempuan berambut biru yang ada didekatku untuk mengumpulkan informasi.
"Ah, yang dikerubuti itu adalah teman masa kecilku. Saat Aku ingin melerai mereka, Aku malah diusir, jadi..." [Perempuan Berambut Biru]
Jadi begitu.
Sepertinya memang begini kebiasaan sulit dan egois si rambut pirang.
Kebiasaan buruk ini banyak dimiliki oleh mereka kaum bangsawan kelas-atas, mereka tidak akan puas sampai semuanya berjalan sesuai keinginan mereka.
"Hei, kau. Aku ini bangsawan bintang 3, harusnya kau patuh padaku, tahu? Ah, tapi kalau kau jadi istriku, mungkin Aku bisa memaafkanmu, hmm?" [Deluc]
Si pirang yang sekarang memegang rambut perempuan di depannya, tersenyum layaknya seorang maniak.
Astaga.
Sayang sekali, kau dianiaya seperti ini di tanah Akademi Sihir Kerajaan.
Ku yakin harga dirimu sebagai bangsawan hilang sekarang.
"Permisi, Aku mau lewat." [Ars]
Tapi maaf, Aku tak punya waktu untuk melihat pertengkaran antar para bangsawan di pagi hari.
Aku berjalan diantara kerumunan penonton, dan memutuskan untuk langsung pergi ke arah bangunan sekolah.
[[[...!?]]] (banyak orang kaget)
...Sepertinya cuma khayalanku saja.
Sesaat setelah mereka melihatku, Aku merasakan ketegangan aneh yang ada pada bangsawan disekitarku.
"Oi, lihat kerah orang itu...!"
Aku bisa mendengar seseorang meneriakiku.
"Tanpa bintang... Jangan bilang dia...!"
"Ah, tidak mungkin...!? Mengapa ada rakyat jelata di sini...?"
Hal yang bagi mereka para bangsawan terlihat langka; rakyat jelata.
Dari sudut pandangku, Aku sudah terbiasa melihat mereka para bangsawan memandangku remeh seperti ini.
====================
Comments
Post a Comment