====================
07 - Dua Gadis
Fiuh.
Banyak hal yang terjadi, tapi akhirnya Aku sampai ke tempat ujian.
Ujian dilaksanakan di samping sekolah, dalam lapangan yang areanya cukup luas.
Mungkin lapangan ini memang dibuat untuk kamp pelatihan, tapi tetap saja luar biasa bagiku kalau mereka bisa menyiapkan tanah seluas ini di pusat ibukota, yang harga tanahnya pasti sangat mahal sekali.
Kami, para peserta ujian, dikumpulkan di tengah lapangan dan menunggu penguji datang.
"Maaf, bolehkah Aku bertanya sebentar?" [?]
Saat Aku sampai di pojokan—agar tak terlihat oleh siapapun—, seorang perempuan menghampiriku. Ah, dia si rambut merah yang kulihat di gerbang sekolah tadi.
Ada dua bulatan di rambutnya, dan diikat dengan gaya twintail.
Tak heran kalau dia sampai diganggu oleh bangsawan lain sebelumnya.
Kalau dilihat lagi, wajahnya memang terlihat sangat cantik.
"Kau yang tadi berjalan di depan gerbang akademi, kan?" [Perempuan rambut merah]
Awalnya Aku ingin pura-pura tak tahu, tapi sepertinya percuma saja kalau berbohong di sini.
Sebagai satu-satunya rakyat jelata di akademi ini, sepertinya Aku jadi pusat perhatian.
"Iya, ada yang bisa kubantu?" [Ars]
"Namaku Rena, kau tadi telah membantuku, kan? Aku hanya ingin berterima kasih padamu." [Perempuan rambut merah / Rena]
"..." [Ars]
Hmm...
Aku punya firasat kalau Aku pernah bertemu dengan gadis bernama Rena sebelumnya... Apa hanya pikiranku saja?
Wajahnya terlihat agak familiar bagiku.
"Tidak perlu berterima kasih. Semua itu hanya kebetulan." [Ars]
Aku tak ada niatan membantunya, hanya saja Aku lebih mencolok ketimbang bangsawan bintang satu.
"Ini adalah temanku, Ru. Kami datang ke sini untuk mengambil ujian bersama." [Rena]
"Halo, namaku Rua." [Perempuan rambut biru / Rua]
Hoo.
Tidak seperti Rena yang keliahatan serius, Ru lebih kelihatan lemah.
Penampilan mereka berdua sama.
Dan kulihat, mereka sama-sama bangsawan bintang satu.
Dipikir lagi, sepertinya hanya mereka berdualah bangsawan bintang satu di akademi ini.
"Hei, kalo gak keberatan, bolehkah kutanya namamu siapa?" [Rua]
"Ars." [Ars]
Tidak sopan kalau Aku tak mengenalkan diri saat mereka sudah mengenalkan diri mereka padaku.
Jadi kukenalkan diriku dengan satu kata saja.
"Huhu, jujur kami sebenarnya khawatir. Kami sempat berpikir apakah bangsawan bintang satu seperti kami tak masalah ikut ujian. Tapi setelah melihatmu tadi, Ars, kami jadi optimis." [Rua]
"Benar. Jarang sekali warga biasa sepertimu, dan bangsawan bintang satu seperti kami, datang untuk mendaftar ke Akademi Sihir Kerajaan ini." [Rena]
"Eh, apa sesulit itu untuk bangsawan bintang satu masuk ke akademi ini?" [Ars]
Setelah kutanyakan mereka untuk jujur, mereka berdua melepaskan desah yang dalam.
"Tentu saja sebelumnya ada bangsawan bintang satu yang lain, tapi jarang sekali." [Rena]
"Kalau ingin lulus, sepertinya kita harus menunjukkan kekuatan yang besar nanti." [Rua]
Begitu ya?
Sulit juga hidup di dunia bangsawan seperti itu.
Kalau bangsawan bintang satu saja separah itu, pastinya akan lebih sulit lagi bagi rakyat jelata sepertiku untuk bisa lulus ujian ini.
====================
Comments
Post a Comment